4/06/2014

PERBEDAAN AKUNTANSI INTERNASIONAL DENGAN BIDANG AKUNTANSI LAINNYA

A. Sejarah Akuntansi Internasional
Pada mulanya, akuntansi diawali dengan sistem pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) di Italia pada abad ke 14 dan 15. Sistem pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping), dianggap awal penciptaan akuntansi. Akuntansi modern dimulai sejak double entry accounting ditemukan dan digunakan didalam kegiatan bisnis yaitu sistem pencatatan berganda (double entry bookkeeping) yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli (pada tahun 1447).
Pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) merupakan praktik standar pencatatan transaksi keuangan. Proses pembukuan hanya meliputi pencatatan transaksi-transaksi ke dalam berbagai jurnal dan pemberian klasifikasi kode perkiraan buku besar (yaitu pengumpulan data keuangan mentah) yang menjadi dasar untuk sistem akuntansi yang mengumpulkan dan mengorganisir data mentah menjadi informasi yang berguna.
Luca Pacioli lahir di italia tahun 1447, dia bukan akuntan tetapi pendeta yang ahli matematika, dan pengajar pada beberapa universitas terkemuka di italia. Luca orang yang pertama mempublikasikan prinsip-prinsip dasar double accounting system dalam bukunya berjudul : Summa the arithmetica geometria proportioni et proportionalita pada tahun 1494. Namun banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa prinsip dasar double accounting system bukanlah ide murni luca namun dia hanya merangkum praktek akuntansi yang berlangsung pada saat itu dan mempublikasikannya. Hal ini diakui sendiri oleh Luca (Radebaugh, 1998).
Praktek bisnis dengan metode venetian yang menjadi acuan Luca menulis buku tersebut telah menjadi metode yang diadopsi tidak hanya di italia namun hamper disemua Negara eropa seperti jerman, belanda, inggris.
Akuntansi model akuntansi belanda di ekspor antara lain ke Indonesia, sistem akuntansi perancis di polinesia dan wilayah-wilayah afrika dibawah pemerintahan perancis. Kerangka pelaporan sistem jerman berpengaruh di jepang, swedia, dan kekaisaran rusia. Paruh abad 20, seiring tumbuhnya kekuatan ekonomi amerika serikat, kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian akuntansi diakui sebagai suatu disiplin ilmu akademik tersendiri. Setelah perang dunia II, pengaruh akuntansi semakin terasa di dunia barat. Perkembangan Akuntansi didukung oleh adanya pendidikan (munculnya sekolah bisnis), seiring perubahan jaman dan perkembangan hubungan internasional, kerumitan akuntansi semakin menjadi.

B.  Perbedaan Akuntansi Internasional dengan Bidang Akuntansi Lainnya
Pada pengertiannya, Akuntansi internasional merupakan akuntansi sebagai transaksi internasional, perbandingan akuntansi antar Negara yang berbeda dan harmonisasi berbagai standar akuntansi dalam bidang kewenangan pajak, auditing dan bidang akuntansi lainnya. Akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan diperusahaan pada setiap perubahan lingkungan bisnis. Akuntansi memainkan peranan yang sangat penting dalam masyarakat. Tujuan dari akuntansi adalah menyediakan informasi yang dapat digunakan oleh pengambilan keputusan untuk membuat keputusan ekonomi.
Dalam dunia usaha akuntansi merupakan suatu alat informasi, dimana akuntansi memberikan informasi yang akurat untuk pengambilan keputusan. Akuntansi intenasional memiliki peran yang serupa dengan konteks yang lebih luas, dimana lingkup pelaporannya adalah untuk perusahaan multinasional dengan transaksi dan operasi lintas batas Negara atau perusahaan dengan kewajiban pelaporan kepada para pengguna laporan dinegara lain.
Proses akuntansinya pun tidak berbeda dan dengan kualifikasi standar pelaporan tertentu yang diatur secara internasional maupun local pada Negara tertentu. Tetapi penting untuk diketahui mengenai dimensi internasional dari proses akuntansi pada tiap negara yang berbeda. Dimana perbedaan itu meliputi, perbedaan budayam praktik bisnis, struktur politik, system hukum, nilai mata uang, tingkat inflasi local, risiko bisnis, dan serta aturan perundang-undangan mempengaruhi bagaimana perusahaan multinasional melakukan kegiatan operasionalnya dan memberikan laporan keuangannya. Ada beberapa hal yang menyatakan bahwa akuntansi internasional berbeda dengan yang lainnya, perbedaan studi akuntansi internasional adalah pada:
  • Pelaporan untuk MNC/MNE (Multi National Corporation, yaitu sebuah perusahaan internasional atau transnasional yang berkantor pusat disatu negara tetapi kantor cabang diberbagai negara maju dan berkembang)
  • Batas Negara, Operasi yang melintasi batas-batas negara
  • Pelaporan ditujukan kepada pengguna yang berlokasi di negara selain negara perusahaan.
  • Perpajakan Internasional
  • Transaksi Internasional

C. Tiga Bidang Luas Akuntansi Internasional
            Didalam akuntansi internasional terbagi menjadi tiga bidang yang luas, Akuntansi mencakup beberapa proses yang luas tersebut antara lain:
  • Pengukuran
Proses mengidentifikasikan, mengelompokkan, dan menghitung aktivitas ekonomi atau transaksi. Pengukuran itu memberikan masukan mendalam mengenai probabilitas operasi suatu perusahaan dan kekuatan posisi keuangan.
  • Pengungkapan
Proses dimana pengukuran akuntansi dikomunikasikan kepada para pengguna laporan keuangan dan digunakan dalam pengambilan keputusan. Bidang ini memusatkan memusatkan perhatian pada isu-isu seperti apa yang akan dilaporkan, kapan, dengan cara apa, dan kepada siapa.
  • Auditing
Proses dimana para kalangan professional akuntansi khusus (auditor) melakukan atestasi (pengujian) terhadap keandalan proses pengukuran dan komunikasi. Apabila auditor internal adalah karyawan perusahaan yang bertanggung jawab kepada manajemen, maka auditor eksternal adalah pihak bukan karyawan yang bertanggung jawab untuk melakukan atestasi bahwa laporan keuangan perusahaan disusun menurut standar akuntansi yang berlaku umum.
Pemahaman terhadap dimensi internasional dari proses akuntansi yang baru saja dijelaskan merupakan sesuatu yang penting bagi mereka yang ingin mengelola suatu usaha atau memperoleh atau memasok pembiayaan melintasi batas-batas negara. Bahkan sebuah perusahaan yang beroperasi semata-mata di dalam batasan-batasan suatu negara tertentu tidak lagi tersekat dan terpisahkan dari aspek-aspek akuntansi yang bersifat internasional. Hal ini karena ketergantungan kepada pemasok internasional yang menuntut untuk menekan biaya produksi dan berupaya untuk selalu kompetitif secara global, semua ini telah menjadi sesuatu yang umum dan wajar dalam bisnis dewasa ini. Tidaklah mungkin dapat memahami laporan keuangan dan pengungkapan lainnya tanpa pengetahuan mengenai prinsip akuntansi dan budaya usaha yang mendasarinya.


D.  Tujuan Akuntansi Internasional
            Akuntansi memilii beberapa tujuan, antara lain:

  • Mengidentifikasi sejarah perkembangan akuntansi internasional
  • Memperkenalkan berbagai perbedaan nasional dalam sistem akuntansi di dunia
  • Meringkas evolusi bisnis sampai zaman modern
  • Membahas pentingnya dimensi akuntansi dalam bisnis global dan topik-topik penting yang membentuk akuntansi internasional

E. Peran Akuntansi Dalam Bidang Usaha dan Pasar Modal Global
Faktor lain yang turut menyumbangkan semakin pentingnya akuntansi internasional adalah fenomena kompetisi global. Penentuan acuan (benchmarking), suatu tindakan untuk membandingkan kinerja satu pihak dengan suatu standar yang memadai bukan hal yang baru, tetapi standar perbandingan yang digunakan kini melampaui batas-batas nasional adalah sesuatu yang baru. Menurut peraturan di Amerika, untuk bisa listed di Pasar NYSE maka emiten perlu melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Proses pendaftaran
2. Menyerahkan laporan keuangan. Mereka dapat menggunakan US GAAP, IAS atau GAAP negara masing-masing tetapi masing-masing ada persyaratan tambahan antara lain :
  • Mengisi Form 20-7 untuk laporan tahunan
  • Melakukan rekonsiliasi net earning dan equity agar sesuai dengan US GAAP
  • Memberikan disclosure sesuai US GAAP
  • Menyerahkan laporan kuartal yang tidak perlu di audit
Sebagaimana diketahui pengawas pasar modal itu bertujuan untuk melindungi pemegang saham publik khususnya investor perseorangan (individual investor). Sedangkan Private Placement atau Institutional Investor market biasanya dianggap memilki kemampuan untuk meneliti kelayakan suatu investasi sehinggan tidak perlu secara khusus mendapat perlindungan pemerintah. Dalam transaksi pasar modal global dikenal QIB (Qualified Institutional Buyers). Pengelompokan ini dimaksudkan untuk membatasi pelaku pasar institusi. Kelompok ini minimal harus menginvest sebesar US $ 250 milion. Bagi kelompok investor ini biasanya tidak memerlukan banyak disclosure (pengungkapan) laporan keuangan.
Di samping itu dikenal ADR atau American Depository Receipts. Metode ini dimaksudkan untuk mengonversi saham dari luar ke pasar domestik Amerika sehingga lebih cocok dengan kondisi ekonomi dan investornya. Misalnya saham nilai 10.000 dollar bisa dipecah menjadi senilai US $ 100 per lembar atau seballiknya US$ 0.10 bisa dibuat menjadi US$ 100,00 per lembar. Di samping ADR ada lagi GDR (Global Depository Receipts) yang sifat dan maksudnya sama untuk mempermudah investor menanamkan modalnya di berbagai pasar, perusahaan atau negara. Keadaan ini semua menjadi pemicu dan mempercepat proses menuju global market dan global accounting standard.
 Sumber:
Nama   : Muhamad Wildan A
Kelas   : 4EB10
NPM   : 24210615
Dosen : Liana Zahra
Mata Kuliah : Akuntansi Internasional

PERKEMBANGAN SEJARAH DARI AKUNTANSI INTERNASIONAL

Akuntansi diperkenalkan pertama kali di Italia pada abad 14 dan 15. Pada saat itu akuntansi dilakukan dengan melakukan double entry bookkeeping (sistem pembukuan berpasangan).Akuntansi moderen dimulai sejak double entry accounting ditemukan dan digunakan didalam kegiatan bisnis yaitu sistem pencatatan berganda (double entry bookkeeping) yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli (th 1447). Luca Pacioli lahir di Italia tahun 1447, dia bukan akuntan tetapi pendeta yang ahli matematika, dan pengajar pada beberapa universitas terkemuka di Italia. Lucalah orang yang pertama sekali mempublikasikan prinsip-prinsip dasar double accounting system dalam bukunya berjudul : Summa the arithmetica geometria proportioni et proportionalita di tahun 1494. Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa prinsip dasar double accounting system bukanlah ide murni Luca namun dia hanya merangkum praktek akuntansi yang berlangsung pada saat itu dan mempublikasikannya. Hal ini diakui sendiri oleh Luca (Radebaugh, 1998) “Pacioli did not claim that his ideas were original, just that he was the one who was trying to organize and publish them. He objective was to publish a popular book that could be used by all, following the influence of the venetian businessmen rather than bankers”. Praktek bisnis dengan metode venetian yang menjadi acuan Luca menulis buku tersebut telah menjadi metode yang diadopsi tidak hanya di Italia namun hampir disemua negara eropah seperti Jerman, Belanda, Inggris.
Luca memperkenalkan 3 (tiga ) catatan penting yang harus dilakukan:
a.   Buku Memorandum, adalah buku catatan mengenai seluruh informasi transaksi bisnis.
b.   Jurnal, dimana transaksi yang informasinya telah disimpan dalam buku memorandum kemudian dicatat dalam jurnal.
c.   Buku Besar, adalah suatu buku yang merangkum jurnal diatas. Buku besar merupakan centre of the accounting system (Raddebaugh, 1996).

Perkembangan sistem akuntansi ini didorong oleh pertumbuhan perdagangan internasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan dan keinginan pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap transaksi komersial. “Pembukuan ala Italia” kemudian beralih ke Jerman untuk membantu para pedagang zaman Fugger dan kelompok Hanseatik. Pada saat bersamaan filsuf bisnis Belanda mempertajam cara menghitung pendapatan periodic dan pemerintah Perancis menerapkan keseluruhan sistem dalam perencanaan dan akuntabilitas pemerintah.
Tahun 1850-an double entry bookkeeping mencapai Kepulauan Inggris yang menyebabkan tumbuhnya masyarakat akuntansi dan profesi akuntansi publik yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris tahun 1870-an. Praktik akuntansi Inggris menyebar ke seluruh Amerika Utara dan seluruh wilayah persemakmuran Inggris. Selain itu model akuntansi Belanda diekspor antara lain ke Indonesia. Sistem akuntansi Perancis di Polinesia dan wilayah-wilayah Afrika dibawah pemerintahan Perancis. Kerangka pelaporan sistem Jerman berpengaruh di Jepang, Swedia, dan Kekaisaran Rusia. Paruh Pertama abad 20, seiring tumbuhnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat, kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian Akuntansi diakui sebagai suatu disiplin ilmu akademik tersendiri. Setelah Perang Dunia II, pengaruh Akuntansi semakin terasa di Dunia Barat. Bagi banyak negara, akuntansi merupakan masalah nasional dengan standar dan praktik nasional yang melekat erat dengan hukum nasional dan aturan profesional.

“ Pembukuan ala Italia “ kemudian beralih ke Jerman untuk membantu para pedagang zaman Fugger dan kelompok Hanseatik. Pada saat bersamaan filsuf bisnis Belanda mempertajam cara menghitung pendapatan periodic dan pemerintah Perancis menerapkan keseluruhan sistem dalam perencanaan dan akuntabilitas pemerintah.

Tahun 1850-an double entry bookkeeping mencapai Kepulauan Inggris yang menyebabkan tumbuhnya masyarakat akuntansi dan profesi akuntansi publik yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris tahun 1870-an. Praktik akuntansi Inggris menyebar ke seluruh Amerika Utara dan seluruh wilayah persemakmuran Inggris. Selain itu model akuntansi Belanda diekspor antara lain ke Indonesia, Sistem akuntansi Perancis di Polinesia dan wilayah-wilayah Afrika dibawah pemerintahan Perancis. Kerangka pelaporan sistem Jerman berpengaruh di Jepang, Swedia, dan Kekaisaran Rusia.

Paruh Pertama abad 20, seiring tumbuhnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat, kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian Akuntansi diakui sebagai suatu disiplin ilmu akademi tersendiri. Setelah Perang Dunia II, pengaruh Akuntansi semakin terasa di Dunia Barat.

Pendidikan Akuntansi di Indonesia

Sebelum dikeluarkannya UU No. 34/1954 tentang gelar Akuntan, semua orang dapat menyatakan dirinya selaku akuntan dan memakao gelar akuntan. Dulu, orang yang lulusan dari fakultas Ekonomi Universitas Negeri gelarnya selain SE, mereka langsung dapat gelar Akt atau akuntan. Nah, bonus gelar ini jadi masalah bisa dikatakan membuat iri lulusan dari universitas swasta yang statusnya tidak disamakan.Jadi, karena hal tersebut sekarang yang ingin mendapatkan gelar akuntan harus mengikuti pendidikan profesi akuntansi selama satu tahun dan mengikuti ujian yang diadakan oleh IAI.

Dalam rangka meningkatkan penguasaan akuntansi terhadap pengetahuan dan kompetensi teknis di bidang akuntansi, dan untuk menyongsong keterbukaan dalam era perdagangan bebas, maka IAI dengan dukungan Departemen Keuangan RI menyelenggarakan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP), dengan tujuan untuk menguji kemampuan akuntan untuk berpraktik sebagai Akuntan Publik.

SUMBER : Blog Imelda Oktavia . http://splashurl.com/l5rl5kp
Nama   : Muhamad Wildan A
Kelas   : 4EB10
NPM   : 24210615
Dosen  : Liana Zahra
Mata Kuliah : Akuntansi Internasional

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN DUNIA AKUNTANSI

Ada 8 (delapan) factor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi internasional. Tujuh faktor utama ekonomi, sejarah social, dan/ atau kelembagaan dan merupaka faktor yang sering disebutkan oleh para penulis akuntansi. Akhir-akhir ini, hubungan antara budaya (faktor kedelapan berikut ini) dan perkembangan akuntansi mulai digali lebih lanjut.

1. Sistem pendanaan
Di Negara-negara dengan pasar ekuitas yang kuat, seperti Amerika Serikat dan Inggris, akuntansi memiliki focus atau seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan (profitabilitas) dan dirancang untuk membantu investor menganalisis arus kas masa depandan risiko terkait. Pengungkapan dilakukan sangat lengkap untuk memenuhi ketentuan kepemilikan public yang luas. Sebaliknya, dalam sistem berbasis kredit di mana bank merupakan sumber utama pendanaan, akuntansi memiliki focus pada perlindungan kreditor melalui pengukurang akuntansi yang konservatif dalam meminimumkan pembayaran dividen dan menjaga pendanaan yang mencukupi dalam rangka perlindungan bagi para peminjam. Oleh karena lembaga keuangan memilki akses langsung terhadap informasi apa saja yang diinginkan, pengungkapan public yang luas dianggap tidak perlu. Contohnya adalah Jepang dan Swiss.

2.  Sistem hukum
Sistem hukum menentukan bagaimana individu dan lembaga berinteraksi. Dunia barat memiliki dua orientasi dasar: kodifikasi hukum (sipil) dan hukum umum (kasus). Kodifikasi hukum utamanya diambil dari hukum Romawi dank ode Napoleon. Dalam Negara-negara yang menganut sistem kodifikasi hukum Latin-Romawi, hukum merupakan suatu kelompok lengkap yang mencakup ketentuan dan prosedur. Kodifikasi standar dan prosedur akuntansi merupakan hal yang wajar dan sesuai di sana. Dengan demikian, di Negara-negara yang menganut kodifikasi hukum, aturan akuntansi digabungkan dalam hukum nasional dan cenderung sangat lengkap dan mencakupi banyak prosedur. Sebaliknya, hukum umum berkembang atas dasar kasus per kasus tanpa adanya usaha untuk mencakup seluruh kasus dalam kode lengkap. Tentu saja, terdapat hukum dasar, tetapi cenderung tidak terlalu detail dan lebih fleksibel bila dibandingkan dengan sistem kodifikasi umum. Hal ini mendorong usaha coba-coba dan memungkinkan penerapan pertimbangan. Hukum umum diambil dari kasus hukum Inggris. Pada kebanyakan Negara hukum umum, aturan akuntansi ditetapkan oleh organisasi professional sector swasta. Hal ini memungkinkan aturan akuntansi menjadi lebih adaptif dan inovatif. Kecuali untuk ketentuan dasar yang luas, kebanyakan aturan akuntansi tidak digabungkan secara langsung ke dalam hukum dasar. Kodifikasi hukum (kode hukum) cenderung terpaku pada muatan (isi) ekonominya.

3.  Perpajakan
Di kebanyakan Negara, peraturan pajak secara efektif menentukan standar akuntansi karena perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban dalam akun mereka untuk mengklaimnya dalam keperluan pajak. Dengan kata lain, pajak keuangan dan pajak akuntansi adalah sama. Dalam kasus ini, sebagai contoh adalah kasus yang terjadi di Jerman dan Swedia. Di Negara lain seperti Belanda, akuntansi keuangan dan pajak berbeda: laba kena pajak pada dasarnya adalah laba akuntansi keuangan yang disesuaikan terhadap perbedaan-perbedaan dalam hukum pajak. Tentu saja, ketika akuntansi keuangan dan pajak terpisah, kadang-kadang aturan pajak mengharuskan penerapan prinsip akuntansi tertentu. Penilaian persediaan menurut Masuk Terakhir Keluar Pertama (last-in, first-out- LIFO) di Amerika Serikat merupakan suatu contoh.

4. Ikatan politik dan Ekonomi
Ide dan teknologi akuntansi dialihkan melaui penakhlukan, perdagangan dan kekuatan sejenis. Sistem pencatatan berpasangan (double-entry) yang berawal di Italia pada tahun 1400-an secara perlahan-lahan menyebar luas di Eropa bersamaan dengan gagasan-gagasan pembaruan (rannaissance) lainnya. Kolonialisme Inggris mengekspor akuntan dan konsep akuntansi di seluruh wilayah kekuasaan Inggris. Pendudukan Jerman selama perang dunia II menyebabkan Perancis menerapkan Plan Comptable. Amerika Serikat memaksa rezim pengatur akuntansi bergaya AS di Jepang setelah berakhirnya perang dunia II. Banyak Negara-negara berkembang menggunakan sistem akuntansi yang dikembangkan di tempat lain, (seperti Negara-negara Eropa Timur sekarang meniru sistem akuntansi menurut aturan Uni Eropa (EU).

5. Inflasi
Inflasi mengaburkan biaya historis akuntansi melalui penurunan berlebihan terhadap nilai-nilai asset dan beban-beban terkait, sementara di sisi lain melakukan peningkatan berlebihan terhadap pendapatan. Negara-negara dengan inflasi tinggi seringkali menuntut perusahaan-perusahaan melakukan berbagai perubahan harga ke dalam perhitungan keuangan mereka. Meksiko dan beberapa Negara Amerika Selatan menggunakan akuntansi tingkat umum karena pengalaman mereka dengan hiperinflasi. Pada akhir tahun 1970-an, sehubungan dengan tingkat inflasi yang tidak biasanya tinggi, AS dan Inggris melakukan eksperimen dengan pelaporan pengaruh perubahan harga.

6.  Tingkat perkembangan ekonomi
Faktor ini mempengaruhi jenis transaksi usaha yang dilaksanakan dalam suatu perekonomian dan menentukan manakah yang paling utama. Pada gilirannya, jenis transaksi menentukan masalah akuntansi yang dihadapi. Sebagai contoh, kompensasi eksekutif perusahaan berbasis saham atau sekuritisasi asset merupakan sesuatu yang jarang terjadi dalam perekonomian dengan pasar modal yang kurang berkembang. Saat ini, banyak perekonomian industry berubah menjadi perekonomian jasa. Masalah akuntansi seperti penilaian asset tetap dan pencatatan depresiasi yang sangat relevan dalam sector manufaktur menjadi semakin kurang penting. Tantangan-tantangan akuntansi yang baru, seperti penilaian asset tidak berwujud dan sumber daya manusia semakin berkembang.

7.  Tingkat pendidikan
Standar dan praktik akuntansi yang sangat rumit (sophisticated) akan menjadi tidak berguna jika disalahartikan dan disalahgunakan. Sebagai contoh pelaporan teknis yang kompleks mengenai varian perilaku biaya tidak akan berarti apa-apa, kecuali para pembaca memahami akuntansi biaya. Pengungkapan mengenai resiko efek derivative tidak akan informative kecuali jika dibaca oleh pihak yang berkompeten. Pendidikan akuntansi yang professional sulit dicapai jika taraf pendidikan di suatu Negara secara umum juga rendah. Meksiko adalah salah satu contoh Negara di mana permasalahan ini telah berhasil ditanggulangi. Pada situasi lainnya, sebuah Negara harus mengimpor tenaga pelatihan atau mengirim warganya ke Negara lain untuk memperoleh kualifikasi yang layak. Hal terakhir inilah yang saat ini sedang diterapkan oleh Cina. kebanyakan negara-negara Eropa Kontinental dan Jepang memiliki sistem kodifikasi hukum dan bergantung pada perbankan atau pemerintah untuk memperoleh kebanyakan pendanaan. Aturan akuntansi di sana pada umumnya sesuai dengan hukum pajak.
Sangatlah sulit untuk menentukan mana yang penyebab dan mana yang akibat. Jenis sistem hukum mungkin terlebih dahulu mempengaruhi sistem keuangan di suatu Negara. Sistem hukum umum menekankan hak pemegang saham dan menawarkan perlindungan investor yang lebih baik dibandingkan kodifikasi hukum. Hasilnya adalah pasar ekuitas yang kuat berkembang di Negara-negara hukum dan pasar ekuitas yang lemah berkembang di Negara-negara yang menganut kodifikasi hukum. Perpajakan merupakan fungsi akuntansi yang penting di setiap Negara yang mengenakan pajak penghasilan perusahaan. Apakah pajak mendominasi orientasi akuntansi bergantung pada apakah akuntansi memiliki tujuan kompetisi, yaitu memberikan informasi kepada pemegang saham luar. (Akuntansi Pajak tidak cocok untuk tujuan ini). dengan demikian, jika hukum umum menghasilkan pasar ekuitas yang kuat, perpajakan tidak akan mendominasi.

8. Budaya
Di sini budaya berarti nilai-nilai dan perilaku yang dibagi oleh suatu masyarakat. Variable budaya mendasari pengaturan kelembagaan di suatu Negara (seperti sistem hukum). Hofstede mendasari empat dimensi budaya nasional (nilai social):
(1) individualise,
(2) jarak kekuasaan,
(3) penghindaran ketidakpastian, dan
(4) maskulinitas.
Analisis yang dilakukannya didasarkan pada data yang berasal dari para karyawan sebuah perusahaan multinasional besar dari AS yang beroperasi di 40 negara yang berbeda.
Secara singkat, individualisme merupakan kecenderungan terhadap suatu tatanan social yang tersusun longgar dibandingkan terhadap tatanan yang tersusun ketat dan saling tergantung. Jarak kekuasaan adalah sejauh mana hierarki dan pembagian kekuasaan dalam suatu lembaga dan organisasi secara tidak adil dapat diterima. Penghindaran ketidakpastian adalah sejauh mana masyarakat tidak merasa nyaman dengan ambiguitas dan suatu masa depan yang tidak pasti. Ma skulinitas adalah sejauh mana peran gender dibedakan serta kinerja dan pencapaian yang

Berdasarkan rincian diatas, dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi akuntansi internasional menyangut kegiatan kegiatan ekonomi yang dijalankan oleh Negara atau perusahaan yang menjalankan akuntansi internasional. tingkat pendidikan dan budaya juga turut mempengaruhi akuntansi tersebut.


Nama   : Muhamad Wildan A
Kelas   : 4EB10
NPM   : 24210615
Dosen  : Liana Zahra
Mata Kuliah : Akuntansi Internasional

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SISTEM AKUNTANSI DARI NEGARA PERANCIS, JERMAN, REPUBLIK CEKO, BELANDA DAN INGGRIS

Berikut ini adalah sedikit pembahasan tentang apa saja persamaan dan perbedaan sistem akuntansi di beberapa negara, diantaranya adalah Negara Prancis, Jerman, Republik Ceko, Belanda dan Inggris. Negara-negara tersebut sudah memiliki Sistem Akuntansi yang baik, namun dari masing-masing negara memiliki peraturan dan sistem yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita akan membahas apa saja persamaan dan perbedaan Sistem Akuntansi dari setiap negara.
1. PERANCIS
a. Regulator
  • CNC (Badan Akuntansi Nasional)
  • CRC (Komite Regulasi Akuntansi)
  • AMF (Otoritas Pasar Keuangan)
  • OEC (Institut Akuntan Publik)
  • CNCC (Institut Nasional Undang-Undang Auditor)
b. Regulasi
  • Plan Compatable General (Undang-Undang Akuntansi Nasional)
c. Laporan Keuangan
  • Neraca, Laporan laba rugi, Catatan atas laporan keuangan, Laporan direktur, Laporan Auditor, Laporan arus kas (dirokemdasikan oleh CNC).
  • Laporan khas Perancis adalah laporan pencegahan kebangkrutan bisnis dan sebuah laporan sosial (bagi perusahaan besar).
  • Laporan keuangan harus diaudit kecuali untuk perusahaan kecil, kewajiban terbatas, dan kemitraan.
d. Pengukuran Akuntansi 
Akuntansi di Prancis memiliki karakteristik ganda: perusahaan tersendiri harus mematuhi peraturan yang tetap, sedangkan kelompok usaha konsolidasi memiliki fleksibilitas lebih besar. Akuntansi untuk perusahaan individual merupakan dasar hukum untuk membagikan dividen dan menghitung pendapatan kena pajak.
  • Penilaian aktiva berdasarkan biaya historis.
  • Aktiva tetap didepresiasikan menurut provisi pajak dengan menggunakan dasar garis lurus atau saldo berganda.
  • Persediaan dinilai sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya atau nilai realisasi dengan menggunakan metode FIFO atau metode rata – rata tertimbang.
  • Biaya penelitian dan pengembangan dibebankan pada saat terjadinya, namun dapat dikapitalisasikan dalam keadaan tertentu.
Dengan beberapa pengecualian, laporan keuangan konsolidasi Prancis mengikuti pendekatan penyajian wajar berupa pelaporan substansi mengungguli bentuk.
2. JERMAN
a. Regulator
  • DRSC (German Accounting Standards Committee), GASC (mengawasi DRSC), FREP (Dewan Sektor Swasta), Wirtschaftspruferkammer (Chamber of Accountants).
b. Regulasi
  • German Commercial Code (HGB) dan keputusan hakim. Akuntansi Jerman dirancang untuk menghitung jumlah pendapatan yang tepat yang bisa menjaga kreditor setelah adanya pembagian kepada pemilik.
c. Laporan Keuangan
  • Neraca, Laporan laba rugi, Catatan, Laporan Manajemen, Laporan Auditor
  • Perusahaan kecil dibebaskan dari persyaratan audit dan diperbolehkan untuk menyusun sebuah neraca singkat. Laporan khas Jerman adalah laporan pribadi dari auditor kepada dewan direktur dan dewan pengawas perusahaan.
d. Pengukuran Akuntansi
  • Metode pembelian adalah metode konsolidasi yang utama
  • Aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi dinilai sebesar nilai kini dan jumlah yang tersisa merupakan goodwill.
  • Goodwill dapat disalinghapuskan terhadap cadangan dalam ekuitas atau diamortisasi secara sistematis selama umur manfaat ekonominya.
  • Usaha patungan dapat dicatat dengan menggunakan metode konsolidasi proporsional atau metode ekuitas.
  • Biaya historis merupakan dasar untuk menilai aktiva berwujud.
  • Persediaan dinilai sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya atau pasar, metode yang digunakan untuk menghitung biaya adalah FIFO atau rata – rata tertimbang.
  • Biaya penelitian dan pengembangan dibebankan pada saat terjadinya.
3. REPUBLIK CEKO
a. Regulator
  • Parlemen
  • Menteri Keuangan
  • Chamber of Auditors
b. Regulasi
  • Commercial Code
  • Accountancy Act
  • dan Dekrit Menteri Keuangan
c. Laporan Keuangan
  • Neraca, akun keuntungan dan kerugian (laporan laba rugi) dan catatan, Perusahaan kecil tidak diwajibkan melakukan audit memiliki persyaratan pengungkapan yang singkat. Perusahaan Ceko yang terdaftar harus menggunakan IFRS dan memberikan laporan laba rugi per 3 bulan.
  • Perusahaan tidak terdaftar bisa memilih IFRS atau standar akuntansi Ceko dalam laporan keuangan gabungan mereka tapi harus menggunakan standar Ceko dalam laporan perusahaan pribadi.
d. Pengukuran Akuntansi
Hukum Komersial mewajibkan perusahaan – perusahaan besar untuk menyusun laporan konsolidasi.
  • Akun perusahaan secara terpisah merupakan dasar bagi laporan konsolidasi dan umumnya prinsip akuntansi yang sama digunakan untuk keduanya.
  • Anak perusahaan dikonsolidasikan jika induk perusahaan secara langsung dan tidak langsung mengendalikan kebijakan keuangan dan operasionalnya.
  • Goodwill diukur menurut dasar nilai wajar aktiva bersih yang diakuisisi dan diamortisasi selama maksimum 20 tahun.
  • Metode ekuitas digunakan untuk investasi pada perusahaan afiliasi ketika induk dan anak perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap kebijakan keuangan dan operasionalnya.
  • Persediaan dinilai sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya atau pasar, namun biaya yang paling banyak digunakan.
  • Biaya penelitian dan pengembangan dibebankan pada saat terjadinya.
4. BELANDA
a. Regulator
  • DASB (Dutch Accounting Standards Board)
  • AMF (Authority for the Financial Markets)
  • Enterprise ChamberNivRA (Netherlands Institute of Registeraccountants)
b. Regulasi
  • Act on Annual Financial Statements 1970.
c. Laporan Keuangan
  • Neraca, laporan laba rugi, catatan, laporan direktur dan informasi lain yang sudah ditentukan, laporan arus kas dianjurkan.
  • Perusahaan kecil dibebaskan dari persyaratan audit dan dapat menyusun laba rugi singkat dan neraca. Perusahaan menengah harus diaudit tapi boleh mengeluarkan laporan laba rugi singkat.
  • Laporan keuangan dan akuntansi pajak merupakan dua aktivitas yang berbeda. Perusahaan terdaftar harus menggunakan IFRS, tapi semua perusahaan diperbolehkan menggunakan IFRS alih-alih pedoman Belanda.
d. Pengukuran Akuntansi
Pengukuran akuntansi Belanda memiliki fleksibilitas, hal ini terlihat dengan diperbolehkannya penggunaan nilai kin untuk aktiva berwujud seperti persediaan dan aktiva yang disusutkan. Karena perusahaan – perusahaan Belanda memiliki fleksibilitas dalam menerapkan aturan pengukuran , dapat diduga bahwa terdapat kesempatan untuk melakukan perataan laba.
5. INGGRIS
a. Regulator
  • CCAB (Consultative Committee of Accountancy Bodies)
  • FRC (Financial Reporting Council)
  • AIDB (Accountancy Investigation dan Discipline Board)
  • POB (Professional Oversight Board).
b. Regulasi
  • Undang-Undang Perusahaan 1981 dan profesi akuntansi.
c. Laporan Keuangan
  • Laporan direktur, akun laba dan rugi serta neraca, laporan arus kas, laporan keseluruhan laba dan rugi, laporan kebijakan akuntansi, catatan yang direferensikan dalam laporan keuangan, dan laporan auditor.
  • Perusahaan kecil dan menengah dibebaskan dari banyaknya kewajiban laporan keuangan termasuk laporan gabungan, dan diizinkan untuk menyusun akun singkat dengan informasi minimun yang telah ditentukan sebelumnya.
Pelaporan keuangan Inggris termasuk yang paling komprehensif di dunia. Laporan keuangan umumnya mencakup Laporan Direksi, Laporan Laba dan Rugi dan Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Total keuntungan dan Kerugian yang Diakui, Laporan Kebijakan Akuntansi, Catatan atas Referensi dalam Laporan Keuangan, dan Laporan Auditor.
SUMBER : bahrulwasim.files.wordpress.com/2011/06/bab-i-s-d-bab-vi.pptx‎

1/20/2014

PROPOSAL JURNAL SKRIPSI

BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar belakang Masalah
            Dunia usaha pada saat ini telah berkembang dengan pesat. Berbagai jenis produk telah dikembangkan dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi memberi dampak yang pesat di dunia usaha dan perekonomian Indonesia. Maka, setiap perusahaan harus waspada dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu keputusan yang dapat memecahkan masalah tersebut yang biasanya diambil dari berbagai alternatif pilihan yang ada.
            Dalam menjalankan aktivitasnya perusahaan banyak dihadapkan pada peluang baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, peluang yang datang pada suatu perusahaan tidak selamanya akan menghasilkan keuntungan.
            Untuk menghindari dan menekan kerugian untuk masa ketidakpastian, perusahaan-perusahaan melakukan peramalan-peramalan. Peramalan adalah suatu usaha untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang dengan melihat data dari masa lalu. Esensi peramalan adalah perkiraan peristiwa di waktu yang akan datang atas dasar data di waktu yang lalu dan penggunaan kebijakan terhadap proyeksi pada pola di waktu lalu.
Peranan peramalan dalam ekonomi bisnis sangat penting. Pertama, untuk mengkaji kebijakan perusahaan yang berlaku saat ini dan di masa lalu serta melihat sejauh mana pengaruhnya di masa datang. Kedua, peramalan diperlukan karena adanya time lag atau delay antara saat suatu kebijakan perusahaan ditetapkan dengan saat implementasi. Ketiga, dengan adanya peramalan maka dapat dipersiapkan program dan tindakan perusahaan untuk mengantisipasi keadaan di masa datang, sehingga resiko kegagalan dapat diminimumkan. Keempat, peramalan merupakan dasar penyusunan bisnis pada sebuah perusahaan. Kelima, peramalan juga dapat digunakan dalam decision making pada berbagai tingkatan manajemen perusahaan.
            Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba melakukan perhitungan peramalan terhadap penjualan produk semen 3 Roda dan semen Gresik sebagai acuan dalam penulisan ilmiah ini.
            Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengambil judul “ANALISIS PERAMALAN PENJUALAN SEMEN PADA TB.KEMANG 99 ”

1.2       Rumusan dan Batasan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah yaitu sebagai berikut :
1.      Bagaimana kondisi peramalan penjualan produk semen 3 Roda dan semen Gresik pada triwulan tahun 2013 dengan menggunakan metode Moving Average (MA) dan Weight Moving Average ( WMA ) ?
2.      Bagaimana kondisi peramalan Biaya Pemasaran semen 3 Roda dan semen Gresik pada triwulan tahun 2013 dengan menggunakan metode Moving Average ( MA ) dan Weighted Moving Average (WMA) ?
Untuk mempersempit masalah yang akan dibahas maka dalam penulisan
ilmiah ini penulis membatasi masalah hanya pada peramalan terhadap penjualan semen 3 Roda dan semen Gresik pada triwulan tahun 2013 dengan menggunakan metode Moving Average (MA) 3 bulan dan Weighted Moving Average (WMA) 3 bulan dengan bobot 50%, 30%, dan 20%.

1.3       Tujuan Penelitian
            Adapun tujuan dari penulisan ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui kondisi peramalan penjualan produk semen 3 Roda dan semen Gresik pada triwulan tahun 2013 dengan menggunakan metode Moving Average (MA) dan Weight Moving Average ( WMA )
2.      Untuk mengetahui peramalan biaya penjalan produk semen 3 Roda dan semen Gresik pada triwulan tahun 2013 dengan menggunakan metode Moving Average ( MA ) Weighted Moving Average (WMA).
3.      Untuk mengetahui besarnya penyimpangan/ eror atau Mean Absolue Devisiasion dari hasil perhitungan peramalan penjualan dan biaya penjualan pada triwulan tahun 2013 dengan menggunakan metode Moving Average (MA) dan Weighted Moving Average (WMA).

1.4       Manfaat Penelitian
            Dalam suatu perusahaan manfaat peramalan adalah sebagai berikut :
1.      Manfaat hasil penelitian bagi dunia akademis adalah menambah pengetahuan dan wawasan dalam mempelajari peramalan.
2.      Manfaat praktis hasil penelitian bagi perusahaan yang bersangkutan adalah perusahaan dapat mengetahui jumlah produk yang harus disediakan untuk penjualan mendatang.

1.5       Metode Penelitian
            Penulis melakukan metode penelitian dengan cara mengumpulkan data dari hasil studi pustaka dan hasil lapangan agar hasil penulisan yang didapat lebih akurat dan objektif, maka penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1.5.1. Objek Penelitian
Dalam melakukan penelitian penulis memilih Perusahaan TB.KEMANG 99 sebagai objek penelitian yang beralamat di Jln. Kemang Raya no.99 Kampung Cikumpa, Sukmajaya Depok.

      1.5.2. Data / Variabel Yang Digunakan
Data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yang dapat dilakukan untuk memperlancar penelitian, jenis datanya yaitu :
 1.    Data primer
         Yaitu data mengenai objek penelitian yang langsung di dapat dari perusahaan atau melalui wawancara langsung terhadap pihak yang berhubungan dengan bidang penjualan.


2.   Data sekunder
      Yaitu data yang di peroleh dengan cara meminta dokumen – dokumen atau laporan – laporan penjualan yang bersumber dari perusahaan dan pihak yang berkaitan, khususnya pada bidang penjualan.

1.5.3. Metode Pengumpulan Data / Variabel
Untuk memperoleh data serta keterangan – keterangan yang diperlukan  beberapa metode pengumpulan data. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu :
a.       Studi Lapangan
                  Penulis langsung mendatangi Perusahaan TB.Kemang 99  objek penelitian untuk memperoleh data – data yang diperlukan.
b.   Wawancara
Dilakukan untuk mendapatkan data dengan cara mewawancarai langsung dengan pihak perusahaan yang bersangkutan, dalam hal ini dengan pemilik Toko Bangunan.
     c.    Studi Pustaka
Penulis melakukan pengumpulan data ini dilakukan dengan cara membaca dan mengkaji literatur referensi yang terkait dengan topik penulisan.

1.6       Sistematika Penulisan
Materi penulisan ini diatur secara sistematis untuk mempermudah pembahasan dan secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :


BAB I             PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang Latar Belakang, Perumusan Masalah, Batasan Masalah, Tujuan Penelitian, Metodologi Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II            LANDASAN TEORI
Pada bab ini dikemukakan tentang Definisi Peramalan/Forecasting, Proses Peramalan, Jenis-jenis Peramalan, Kegunaan Peramalan, Metode Peramalan, Teknik-teknik Peramalan, Kesalahan Peramalan, Kajian Penelitian Sejenis.
BAB III          METODE PENELITIAN
Dalam bab ini dapat diuraikan objek penelitian, variable yang digunakan, dan metode metode yang akan dipakai dan alat analisis.
BAB IV          PEMBAHASAN
Pada bab ini akan membahas sejarah singkat dan perkembangan perusahaan, kegiatan perusahaan, serta menghitung peramalan terhadap penjualan produk semen 3 Roda dan semen Gresik tahun 2013 dengan menggunakan metode Moving Average (MA) 3 bulan dan Weighted Moving Average (WMA) 3 bulan dengan bobot 50%, 30%, dan 20%. 
BAB V            PENUTUP
Pada bab ini, penulis mencoba untuk memberikan beberapa kesimpulan berdasarkan apa yang telah diuraikan dan dianalisis pada bab IV serta beberapa saran dengan harapan dapat bermanfaat bagi kemajuan perusahaan.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1       Kerangka Teori
2.1.1    Pengertian Peramalan
Menurut T. Hani Handoko ( 2000 : 260 ), Peramalan adalah usaha untuk meramalkan keadaan di masa mendatang melalui pengujian keadaan di masa lalu.
Menurut Pangestu Subago ( 2000 : 1 ), Peramalan adalah memperkirakan jumlah produk yang akan dibutuhkan konsumen.
Menurut Husain Umar ( 2000 : 297 ), Peramalan dapat digunakan untuk mengetahui sesuatu keadaan di masa datang, ramalan yang dilakukan umumnya akan berdasarkan pada data yang didapat pada masa lampau yang dianalisis dengan cara-cara tertentu.
Menurut Phillip Kotler dan Gary Armstrong ( 1997 : 223 ), Meramal adalah seni memperkirakan permintaan di masa depan dengan mengantisipasi apa yang tampaknya akan dilakukan pembeli di bawah kondisi masa depan tertentu.
Menurut Suad Husnan dan Suwarsono Muhammad ( 2000 : 40 ), Peramalan adalah usaha untuk mengetahui jumlah produk atau sekelompok produk di masa datang dalam kendala dan kondisi tertentu.
Menurut Gunawan Adisaputro ( 2003 : 148 ), Peramalan adalah suatu cara untuk mengukur atau menaksir kondisi bisnis di masa mendatang.
            Jadi, Peramalan adalah suatu cara yang digunakan oleh sebuah perusahaan untuk mengetahui kondisi penjualan produknya di masa yang akan datang berdasarkan data yang tersedia di masa lalu dengan suatu metode tertentu.

2.1.2    Proses Peramalan
Analisis peramalan dugunakan sebagai pembantu perasaan bukan sebagai keputusan yang sudah pasti. Langkah-langkah dalam proses peramalan menurut T. Hani Handoko ( 2000 : 260 ) adalah sebagai berikut :


1. Penentuan Tujuan
Yaitu langkah pertama yang terdiri atas penentuan macam estimasi yang diinginkan. Sebaliknya, tujuan tergantung pada kebutuhan-kebutuhan informasi para manajer.
2. Pengembangan Model
Yaitu mengembangkan suatu model yang merupakan penyajian secara lebih sederhana sistem yang dipelajari. Dalam peramalan, model adalah suatu  kerangka analitik yang bila dimasukkan data menghasilkan estimasi penjualan di waktu yang akan datang.
3. Pengujian Model
Yaitu untuk menentukan tingkat akurasi, validitas dan reliabilitas yang diharapkan.
4. Penerapan Model
Setelah pengujian analisis  menerapkan model dalam tahap ini, data historik dimasukkan dalam model untuk menghasilkan suatu ramalan. Dalam kasus model penjualan Y = a + bx, analisis menerapkan teknik-teknik matematik agar memperoleh nilai a dan b.
5. Revisi dan Evaluasi
Ramalan-ramalan yang telah dibuat harus senantiasa diperbaiki dan ditinjau kembali. Perbaikan mungkin dilakukan karena adanya perubahan-perubahan dalam perusahaan atau lingkungannya.

2.1.3    Jenis-Jenis Peramalan
Menurut Sofyan Assauri ( 1999 ), ada beberapa jenis ramalan yang cukup relevan dalam pengambilan keputusan manajemen penjualan, salah satu pembagian yang penting adalah sebagai berikut :
  1. Potensi Pasar
Adalah kemungkinan penjualan total barang dan jasa oleh industri yang ada.

  1. Potensi Penjualan Perusahaan
Adalah kemungkinan penjualan total untuk sebuah perusahaan.

  1. Peramalan Penjualan Perusahaan
Adalah estimasi realitis tentang penjualan aktual dalam rupiah atau unit yang diharapkan akan dicapai perusahaan dalam periode mendatang menurut rencana pemasaran.
Menurut M. Mursid ( 1997 ), ada dua macam ramalan penjualan yaitu sebagai berikut :
1. Ramalan Penjualan Industri
Digunakan untuk memperkirakan jumlah penjualan yang akan dicapai pada  pasar yang relevan.
2. Ramalan Penjualan Perusahaan
   Digunakan untuk memperkirakan tingkatan penjualan perusahaan-  perusahaan yang diharapkan berdasarkan atas rencana pemasaran yang telah dipilih dan  lingkungan pasaran yang telah ditentukan.

2.1.4    Kegunaan Peramalan
Keguanaan peramalan yang dapat diambil oleh manajemen adalah :
  1. Untuk menentukan kebijakan dalam penyusunan anggaran yang meliputi aktivitas yang dijalankan oleh perusahaan.
  2. Mengurangi akibat kekurangan atau kelebihan persediaan karena dapat menimbulkan biaya yang dapat mengurangi keuntungan perusahaan.
  3. Membantu kegiatan pemasaran dikemudian hari.
  4. Untuk mengurangi atau mengganti produk yang kurang memberikan keuntungan bagi perusahaan.

2.1.5    Metode Peramalan
Menurut T. Hani Handoko ( 2000 : 255 ), Peramalan dilakukan dengan 3 ( tiga ) metode yaitu Top-Down, Buttom-Up dan dari pengalaman masa lalu yang diekstropolasi ke waktu mendatang dengan menggunakan berbagai prosedur matematikal dan statistikal.
1 .Top-Down Forecasting
            Metode imi dimulai dengan penggunaan hasil-hasil peramalan berbagai kondisi bisnis umum yang dibuat oleh para ekonom dalam lembaga-lembaga pemerintahan,   perusahaan-perusahaan besar dan universitas-universitas.
            Bentuk metode ini lebih terperinci dan dibuat menurut pesanan dibeli dari organisasi-organisasi yang khusus bergerak dalam peramalan ekonometrik ( peramalan kecenderungan ekonomi, penggunaan prosedur-prosedur statistik dan matematis ).
2. Buttom-Up Forecasting
            Metode ini dimulai dengan perkiraan permintaan produk akhir individual. Berapa banyak setiap produk akhir individu ? Berapa banyak setiap produk akhir akan dapat dipasarkan perusahaan tahun depan ? Berapa jam pelayanan yang akan diminta ?
            Dalam metode ini para peramal akan menerima estimasi-estimasi dari orang-orang bagian penjualan, para dealer dan para pelanggan. Analisis juga mengamati pola-pola penjualan di waktu yang lalu untuk mendapatkan ramalan yang agregat.
3. Interpretasi Permintaan
            Bagaimanapun juga peramalan dilakukan dalam kondisi ekonomi yang dinamik dan oleh karena itu, jarang dapat dilakukan secara sempurna. Setelah permintaan nyata diketahui, sering timbul masalah bahwa ramalan-ramalan tidak mengantisipasi permintaan yang tepat. Ini mengakibatkan timbul kesulitan-kesulitan baru, karena ramalan-ramalan baru ini mungkin mengakibatkan perlunya penyusunan rencana-rencana persediaan dan skedul-skedul baru.

2.1.6    Teknik-teknik Peramalan
1.   Teknik-teknik Kualitatif
Teknik Kualitatif adalah subjek atau judgemental atau berdasarkan pada estimasi-estimasi dan pendapat-pendapat.
Berbagai sumber pendapat peramalan kondisi bisnis adalah sebagai berikut:
a. Para eksekutif
Sering mempunyai kemampuan untuk memberikan masukan-masukan forecasting yang berguna, terutama dari para manajer-manajer yang berpengalaman.
b. Orang-orang penjualan.
Anggota kelompok ini secara tetap berhubungan dengan pelanggan, sehingga akan mampu untuk menperkirakan rencana-rencana pembelian, sikap dan kebutuhan mereka.
c. Para langganan
Yang membeli keluaran produk atau jasa perusahaan yang kadang bersedia dan berkeinginan untuk mengungkapkan rencana-rencana pembelian mereka.
d. Lain-lain
Dalam banyak contoh, para spesialis ( ahli ) dalam berbagai bidang memberikan pendapat-pendapat yang sangat bernilai.

Sedangkan berbagai teknik peramalan kualitatif yang dapat digunakan, secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :
a.       Metode Delphi
Merupakan teknik yang mempergunakan suatu prosedur yang sistematik untuk mendapatkan suatu konsensus pendapat-pendapat dari suatu kelompok ahli.
b.      Riset Pasar
Adalah peralatan peramalan yang berguna, terutama bila ada kekurangan data historik atau data tidak reliabel.
c.       Analogi Historik
Peramalan dilakukan dengan menggunakan pengalaman-pengalaman historik dari suatu produk yang sejenis.

d.      Konsensus Panel
Gagasan yang didiskusikan oleh kelompok akan menghasilkan ramalan-ramalan yang lebih baik daripada dilakukan oleh seseorang.
2.   Analisis Runtun Waktu ( Time Series )
Model-model peramalan runtut waktu mencoba untuk meramalkan kejadian-kejadian di waktu yang akan datang atas dasar serangkaian data di masa lalu. Serangkaian data ini merupakan serangkaian observasi berbagai variabel menurut waktu, dan biasanya ditabulasi dan digambarkan dalam bentuk grafik yang menunjukkan perilaku variabel subjek. Beberapa pendekatan untuk menganalisis runtut waktu telah tersedia, yang semuanya bermaksud merinci runtut waktu menjadi komponen-komponen yang terpisah. Dengan merinci serangkaian data menjadi komponen-komponen, maka akan dapat dicapai tingkat ketepatan yang lebih besar karena pengaruh-pengaruh yang terpisah pada nilai ramalan akhir dipertimbangkan.
Komponen-komponen runtut waktu terdiri atas :
a.          Trend
Yang menunjukan pola gerakan penurunan atau pertumbuhan jangka panjang serangkaian data historic.
b.         Variasi Musiman
Mencerminkan pengaruh pola-pola pembelian musiman.
c.          Pengaruh-pengaruh Siklikal
Adalah komponen dasar runtun waktu.
d.         Residua tau Erratic
Menunjukan fluktuasi-fluktuasi data yang tidak sistematik atau acak (random).

            Prosedur peramalan yang umum digunakan adalah sebagai berikut :
1.      Mendapatkan data historik dan menggambarkannya dalam “scatter diagram” untuk mengetahui tipe hubungan ( linear atau kuadratik ).
2.      Mencari persamaan trend.
3.      Mencari indeks musim.
4.      Memproyeksikan trend ke waktu yang akan dating.
5.      Mengalihkan nilai-nilai trend bulanan dengan indeks musim.
6.      Memodifikasi nilai-nilai yang diramal dengan pengetahuan tentang :
-          Kondisi-kondisi bisnis siklikal ( C ).
-          Antisipasi pengaruh-pengaruh yang tidak “biasa” ( E ).

Secara ringkas, metode-metode analisis trend dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Freehand
Dengan metode ini garis trend dibuat secara bebas tanpa menggunakan rumus matematika. Kurva trend “freehand” yang digambarkan melalui titik-titik data merupakan cara penyajian termudah dan barangkali memadai dari data. Ramalan dapat diperoleh secara sederhana dengan penarikan garis trend untuk periode yang diramal. Bagaimanapun juga, apa yang tampaknya memadai bagi suatu perusahaan belum tentu berlaku juga bagi perusahaan lain, atau metode ini mempunyai subyektivitas sangat tinggi sehingga jarang digunakan.
b. Kuadrat Terkecil ( Least Squares )
Adalah salah satu metode yang paling luas digunakan untuk menentukan persamaan trend data karena metode ini menghasilkan apa yang secara matematik digambarkan sebagai “line of best fit”. Untuk persamaan linear, garis trend dicari dengan penyelesaikan simultan nilai a dan b pada dua persamaan normal berikut :


                                    ∑ Y   = n a + b ∑ X
∑ XY = a ∑ X + b ∑ X2
   
Keterangan:
∑ Y      = jumlah variabel bergantung
n          = jumlah observasi dalam sample
a          = intercept fungsi pada aksis Y bila X = 0
b          = kemiringan garis fungsi
∑ XY   = jumlah variabel bebas dan variabel bergantung

Bila titik tengah data sebagai tahun dasar, maka ∑ X = 0 dan dapat dihilangkan dari  kedua persamaan di atas, dan menjadi :


∑ Y      =    n a                                  a   =           ∑ Y
                                                                              n

∑ XY  =    b ∑ X2                                      b       =       ∑ XY 
                                                                           ∑ X2

Keterangan:
∑ Y      = jumlah variabel bergantung
n          = jumlah observasi dalam sample
a          = intercept fungsi pada aksis Y bila X = 0
b          = kemiringan garis fungsi
∑ XY   = jumlah variabel bebas dan variabel bergantung

c. Moving Average ( Rata-rata Bergerak Sederhana )
            Diperoleh melalui penjumlahan dan pencarian nilai rata-rata dari sejumlah periode tertentu, setiap kali menghilangkan nilai terlama dan menambah nilai baru. Kelemahan metode ini adalah tidak mempunyai persamaan untuk peramalan, sebagai gantinya menggunakan nilai rata-rata bergerak terakhir sebagai nilai ramalan periode berikutnya.



Dapat digunakan rumus :

                                    MA   =                 ∑ X
                                                        Jumlah Periode
                                                                                                

Keterangan:
∑ X      = jumlah variabel bebas

d. Weighted Moving Average ( Rata-rata Bergerak Tertimbang )
            Adalah suatu metode peramalan yang cara penghitungannya hampir sama dengan metode MA, hanya berbeda pada adanya penambahan bobot pada tiap data. Data terakhir yang masuk dalam periode perhitungan rata-rata diberi bobot lebih besar.
Dapat digunakan rumus :


                                    MA bt  =   ∑ ( bobot ) X
                                                         ∑ bobot
                                                                                             
Keterangan:
∑ ( bobot )       = jumlah bobot
X                     = variabel bebas

e. Exponential Smoothing
            Adalah suatu tipe teknik peramalan rata-rata bergerak yang melakukan penimbangan terhadap data masa lalu dengan cara eksponensial sehingga data paling akhir mempunyai bobot atau timbangan lebih besar dalam rata-rata bergerak.
           

            Dapat digunakan rumus :


                                    Ft  =  Ft – 1  +  α  ( At – 1  -  Ft – 1 )


Keterangan :
Ft         = ramalan untuk periode sekarang ( t )
Ft-1       = ramalan yang dibuat untuk periode terakhir ( t – 1)
α          = smoothing constant ( 0 ≤ α < 1 )
At – 1    = permintaan nyata periode terakhir

3. Analisis Regresi dan Korelasi
            Analisis Regresi adalah metode statistic yang digunakan untuk menentukan hubungan antar paling tidak dua variabel satu atau lebih variabel bebas ( independent variables ) dan satu variabel bergantung ( dependent variables ). Tujuannya adalah untuk meramalkan atau memperkirakan nilai variabel bergantung dalam hubungannya dengan nilai variabel bebas tertentu. Basis prediksi ini secara umum adalah data historik.
            Dapat digunakan rumus sebagai berikut :


                        Y =   a  +  b X
                        a  =   Y  -  b  X
                        b  =    n  ∑ XY  -   ∑ X  ∑ Y
                                  n   ∑ X2   -  ( ∑ X  )2                     
                      SYX  =                  n
                                                  ∑       (  Y   -   Yi   ) 2
                                                i  =  1                              
                                                              n  -  2


Keterangan :
n          =  jumlah observasi dalam sample                     
X         =  variabel bebas
Y         =  variabel bergantung
a          =  intercept fungsi pada aksis Y bila X = 0
b          =  kemiringan garis fungsi
Y         =  rata-rata Y
SYX        =  kesalahan standar estimasi
X         =  rata-rata X

            Analisis Korelasi adalah mengukur derajat hubungan antara dua atau lebih variabel-variabel, tanpa melihat bentuk hubungan. Koefisien korelasi pada umumnya dihitung dengan rumus :


            r  =                     n ∑XY  -  ( ∑X )  (  ∑Y )         
                                 
                             [  n ∑X2  -  (∑X )2  ]  [  n ∑Y2  -  (∑Y  )2                           
                                  
Keterangan:
n          =  jumlah observasi dalam sample                     
X         =  variabel bebas
Y         =  variabel bergantung

4. Analisis Regresi Berganda
            Adalah sejumlah variabel-variabel dipertimbangkan dan pengaruh setiap variabel bebas pada variabel bergantung dinyatakan. Atau dengan kata lain, nilai Y tidak hanya bergantung pada satu variabel, tetapi sejumlah variabel, missal X1, X2, X3, …..Xn.

2.1.7    Kesalahan Peramalan
Dalam meramalkan suatu peramalan, harus mempertimbangkan kesalahn peramalan, maka semakin baik metode tersebut. Menurut T. Hani Handoko ( 2000 :291 ), kesalahan peramalan mempunyai 2 ( dua ) komponen yang harus ditinjau kembali secara hati-hati oleh analis, yaitu :
1.      Ukuran atau besarnya perbedaan antara permintaan nyata dengan peramalan ( error = e ).
2.      Arah kesalahan, yaitu apakah permintaan nyata berada di atas atau di bawah ramalan.
Suatu ukuran kesalahan ramalan yang umum digunakan adalah Mean Absolute Devisiasion  ( MAD ). Secara sederhana, ukuran ini merupakan selisih antara permintaan nyata dan ramalan dengan tingkat rata-rata kesalahan selama meramalkan. Dapat menggunakan rumus sebagai berikut :


                                    MAD  =       ∑ Kesalahan
                                                                N


Keterangan :    N : Jumlah Data Penjualan

2.1.8    Pengertian Biaya Pemasaran
Biaya pemasaran adalah semua biaya yang sejak saat produk selesai diproduksi dan disimpan dalam gudang sampai dengan produk tersebut berubah kembali dalam bentuk uang tunai (Mulyadi, 1991 : 529). Menurut Kusnadi, dkk dalam bukunya Akuntansi Manajemen Komprehensif, Tradisional dan Kontemporer, biaya pemasaran adalah biaya yang dibebankan (segala pengeluaran) didalam penjualan suatu barang atau jasa dari keluarnya barang sampai ke tangan pembeli.
Biaya pemasaran juga dapat diartikan semua biaya yang telah terjadi dalam rangka memasarkan produk atau barang dagangan, dimana biaya tersebut timbul dari saat produk atau barang dagangan siap dijual sampai dengan di terimanya hasil penjualan menjadi kas (Supriyono, 1992: 201-202).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk menjual produk atau barang dagangan sampai ke tangan konsumen.

2.1.8.1 Penggolongan Biaya Pemasaran
Secara garis besar biaya pemasaran dapat dibagi menjadi dua golongan:
a.       Biaya untuk mendapatkan pesanan (order – getting cost), yaitu biaya yang dikeluarkan dalam usaha untuk memperoleh pesanan. Contoh biaya yang termasuk dalam golongan ini adalah biaya gaji wiraniaga (sales person), komisi penjulan, advertensi dan promosi.
b. Biaya untuk memenuhi pesanan (order – filling costs), yaitu semua biaya yang dikeluarkan untuk mengusahakan agar supaya produk sampai ke tangan pembeli dan biaya-biaya untuk mengumpulkan piutang dari pembeli. Contoh biaya yang termasuk dalam golongan ini adalah biaya pergudangan, biaya pembungkusan dan pengiriman, biaya angkutan, dan biaya penagihan ( Mulyadi, 1991: 530 ).
Sedangkan menurut jenis biaya, biaya pemasaran digolongkan ke dalam:
            a. Hubungannya dengan kegiatan pemasaran, digolongkan menjadi:
   1. Biaya pemasaran langsung
Adalah biaya pemasaran yang terjadinya atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada obyek atau pusat biaya tertentu. Misalnya kepada fungsi pemasaran atau pusat-pusat laba tertentu didalam usaha pemasaran.
2. Biaya pemasaran tidak langsung
Adalah biaya pemasaran yang terjadinya atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan kepada obyek atau pusat biaya tertentu.
Misalnya kepada fungsi pemasaran atau pusat-pusat laba tertentu didalam usaha pemasaran.
b. Hubungannya dengan variabilitas biaya terhadap volume ataukegiatan, dalam penggolongan ini biaya dikelompokkan:
1. Biaya pemasaran tetap
Biaya pemasaran yang jumlah totalnya tidak berubah (konstan) dengan adanya perubahan kegiatan atau volume pemasaran sampai dengan tingkatan kapasitas tertentu. Elemen biaya tetap misalnya: gaji manajer dan staf, biaya penyusutan, dan sebagainya.
2. Biaya pemasaran variabel
Biaya pemasaran yang jumlah totalnya berubah secara proporsional dengan perubahan kegiatan atau volume pemasaran. Semakin besar volume atau kegiatan pemasaran semakin bersar jumlah biaya pemasaran variabel, demikian pula sebaliknya apabila volumenya rendah.

c. Penggolongan biaya pemasaran dihubungkan dengan dapat terkendalikan atau tidaknya  suatu biaya. Dalam hal ini biaya dikelompokkan:
                    1. Biaya pemasaran terkendalikan
Biaya pemasaran yang secara langsung dapat dikendalikan atau dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu, berdasar wewenang yang dia miliki.
2. Biaya pemasaran tidak terkendalikan
Biaya pemasaran yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan tertentu berdasar wewenang yang dia miliki, atau tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan dalam jangka waktu tertentu (Supriyono, 1993: 205-207). Menurut Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya (1999: 530),

biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran digolongkan sebagai berikut:

1.      Fungsi penjualan → terdiri dari kegiatan untuk memenuhi pesanan yang diterima dari pelangggan. Biaya fungsi penjualan terdiri dari: gaji karyawan fungsi penjualan, biaya depresiasi kantor, biaya sewa kantor, dll.
2.      Fungsi advertensi → fungsi advertensi terdiri dari kegiatan perancangan dan  pelaksanaan kegiatan untuk mendapatkan pesanan melalui kegiatan advertensi dan promosi. Biaya fungsi advertensi terdiri: gaji karyawan fungsi advertensi, biaya iklan, biaya pameran, biaya promosi, biaya contoh (sampel).
3.      Fungsi pergudangan → fungsi pergudangan terdiri dari kegiatan penyimpanan produk jadi yang siap untuk dijual. Biaya fungsi pergudangan terdiri: gaji karyawan gudang, biaya depresiasi gudang, dan biaya sewa gudang.
4.       Fungsi pembungkusan dan pengiriman → fungsi pembungkusan dan pengiriman terdiri dari kegiatan pembungkusan produk dan pengiriman produk kepada pembeli. Fungsi pembungkusan dan pengiriman terdiri: gaji karyawan pembungkusan dan pengiriman, biaya bahan pembungkus, biaya pengiriman, biaya depresiasi kendaraan, biaya operasi kendaraan.
5.      Fungsi kredit dan penagihan → fungsi kredit terdiri dari kegiatan pemantauan kemampuan keuangan pelanggan dan penagihan piutang dari pelanggan. Biaya fungsi kredit dan penagihan terdiri: gaji karyawan bagian penagihan, kerugian penghapusan piutang, potongan tunai.  
6.      Fungsi akuntansi pemasaran → fungsi akuntansi pemasaran terdiri dari kegiatan pembuatan faktur dan penyelenggaraan catatan akuntansi penjualan. Biaya fungsi pemasaran terdiri dari: gaji karyawan fungsi akuntansi pemasaran dan biaya kantor.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya pemasaran dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Biaya untuk mendapatkan pesanan
Biaya yang dikeluarkan dalam rangka mendapatkan pesanan.
2. Biaya utnuk memenuhi pesanan
Biaya yang dikeluarkan dalam rangka memenuhi pesanan.
3. Biaya pemasaran langsung
Biaya yang berhubungan langsung dengan fungsi/kegiatan pemasaran tertentu.
4. Biaya pemasaran tidak langsung
Biaya yang tidak memiliki hubungan yang jelas dengan fungsi atau kegiatan pemasaran tertenu.
5. Biaya pemasaran tetap
Biaya yang tidak berubah dengan adanya perubahan kegiatan pemasaran tertentu.
6. Biaya pemasaran variabel
Biaya yang berubah-ubah dengan adanya perubahan kegiatan pemasaran tertentu.

2.1.8.2 Karakteristik Biaya Pemasaran
Biaya pemasaran memiliki karakteristik yang berbeda dengan biaya produksi. Karakteristik biaya pemasaran adalah sebagai berikut :
a.       Banyak ragam kegiatan pemasaran ditempuh oleh perusahaan dalam memasarkan produknya, sehingga perusahaan yang sejenis produknya, belum tentu menempuh cara pemasaran yang sama. Hal ini sangat berlainan dengan kegiatan produksi. Dalam memproduksi produk, pada umumnya digunakan bahan baku, mesin, dan cara produksi yang sama dari waktu ke waktu.
b.      Kegiatan pemasaran seringkali mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan perubahan kondisi pasar. Disamping terdapat berbagai macam metode pemasaran, seringkali terjadi perubahan metode pemasaran untuk menyesuaikan dengan perubahan kondisi pasar. Karena perubahan kebutuhan konsumen yang menghendaki pelayanan cepat, maka suatu perusahaan mungkin akan mengganti saluran distribusinya yang selama ini digunakan. Begitu juga kegiatan perusahaan pesaing akan mempunyai pengaruh terhadap metode pemasaran yang digunakan oleh suatu perusahaan, sehingga metode pemasaran produk sangat fleksibel. Hal ini menimbulkan masalah penggolongan dan interpretasi biaya pemasaran.
c.       Kegiatan pemasaran berhadapan dengan konsumen yang merupakan variabel yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan. Manajemen dapat mengendalikan biaya tenaga kerja, biaya bahan baku, jam kerja dan jumlah mesin yang digunakan, tetapi tidak seorangpun dapat mengatakan apa yang dilakukan oleh konsumen. Dalam kegiatan produksi, efisiensi diukur dengan melihat jumlah biaya yang dapat dihemat untuk setiap satuan produk yang diproduksi. Sebaliknya dalam kegiatan pemasaran, kenaikan volume penjualan merupakan ukuran efisiensi meskipun tidak setiap kenaikan volume penjualan diikuti dengan kenaikan laba.
d.      Dalam biaya pemasaran terdapat biaya tidak langsung dan biaya bersama (joint cost) yang lebih sulit pemecahannya bila dibandingkan dengan yang terdapat dalam biaya produksi. Jika suatu perusahaan menjual berbagai macam produk dengan cara pemasaran yang berbeda-beda diberbagai daerah pemasaran, maka akan menimbulkan masalah biaya bersama yang kompleks ( Mulyadi, 1991 : 531 – 532 ).


2.2       Kajian Penelitian Sejenis
Peneliti mengkaji hasil-hasil penelitian yang memiliki kesamaan topik dengan topik yang sedang dan akan diteliti oleh peneliti, dengan tujuan agar peneliti bisa menghargai hasil pemikiran dan penelitian orang lain. Kajian penelitian sejenisnya adalah sebagai berikut :
1.         Fitriyah, 1021782, “Analisis Peramalan Penjualan Produk Korek Api Gas Pada PT. Tokai Dharma Indonesia”. Tahun 2008, Fakultas Ekonomi Universitas Negri Jakarta, Indrianti, SE.,MM.
Kesimpulan dari penulisan ilmiah di atas adalah sebagai berikut :
Setelah melakukan perhitungan peramalan penjualan korek api gas pada PT. Tokai Dharma Indonesia, dengan menggunakan metode MA ( 3 ) penjualan bulan Juni mengalamai penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan bulan Mei. Penjualan pada bulan Juni hanya mencapai 853.000 unit dengan MAD 104,55 tetapi pada bulan Juli dan Agustus penjualan kembali menanjank naik sehingga mencapai 868.000 dan 877.000 unut dengan MAD 9,41 dan 85,54 untuk bulan September penjualan kembali mengalami penurunan yang cukup tinggi.
2.         Dyanna Permanasari, 10203328, “Analisi Peramalan Penjualan Pada UD. Tahu Said”. Tahun 2006, Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Sri Kurniasih Agustin, SE.,MM.
Kesimpulan dari penulisan ilmiah di atas adalah sebagai berikut :
Berdasarkan hasil peramalan ternyata metode ( MA ) 3 bulan lebih baik digunakan oleh  perusahaan karena meiliki tingkat kesalahan yang lebih kecil. Berdasarkan perhitungan peramalan dengan menggunakan metode Moving Average ( MA ) 3 bulan maka penjualan tahu goreng untuk bulan Agustus 2006 sebanyak 28.417 potong dengan MAD sebesar 2.313,33 dan harga per potong sebesar Rp 183,- dengan MAD sebesar 20,33 . Sedangkan penjualan tahu potong untuk tahu potong untuk bulan Agustus 2006 sebanyak 27.807 potong dengan MAD sebesar 1.554,11 dan harga per potong sebesar Rp 150,- dengan MAD sebesar 11,22 .
    


BAB III
METODE PENELITIAN


3.1       Objek Penelitian
     Dalam penulisan ilmiah ini penulis mengambil objek pada TB.KEMANG 99 yang beralamatkan di Jln. Kemang Raya no.99 Kampung Cikumpa, Sukmajaya Depok 16412.

3.2       Data / Variabel Yang Digunakan
Data / variabel yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1. Data penjualan dari tahun 2012 sampai dengan 2013.
2. Kuantitas penjualan.
3. Harga produk.

3.3       Metode Pengumpulan Data / Variabel
Metode pengumpulan data/ variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Observasi, yaitu penulis mengadakan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas perusahaan.
2.      Wawancara, yaitu penulis melakukan wawancara langsung dengan mengajukan petanyaan-pertanyaan kepada pemilik perusahaan tersebut secara langsung untuk mendapatkan data.

3.4       Alat Analisis Yang Digunakan
Untuk mengolah data, penulis menggunakan beberapa alat analisis yaitu sebagai berikut :
1.      Analisis Kuantitatif, yaitu penulis menggunakan analisis dengan teknik-teknik kuantitatif dalam manajemen operasional.
2.      Analisis Deskriptif, yaitu pengambilan data dari lapangan pada jangka waktu tertentu untuk kemudian diolah berdasarkan prosedur yang tepat yaitu analisis time series dengan menggunakan metode Moving Average (MA) dan Weight Moving Average (WMA) untuk mengetahui bagaimana analisis peramalan jumlah penjualan semen 3 Roda dan semen Gresik pada TB.Kemang 99.

3.4.1    Moving Average ( MA )
Adalah suatu metode peramalan dengan mengkombinasikan data dari beberapa periode terbaru atau terakhir. Diperoleh melalui penjumlahan dan pencarian rata-rata dari sejumlah periode tertentu, setiap kali menghilangkan nilai terlama dan menambah nilai baru.
Dapat digunakan rumus :

                                    MA   =                 ∑ X
                                                        Jumlah Periode



3.4.2    Weighted Moving Average ( WMA )
Adalah suatu metode peramalan yang cara perhitungannya hampir sama dengan metode MA, hanya berbeda pada adanya penambahan bobot pada tiap data. Data terakhir yang termasuk dalam periode perhitungan rata-rata diberi bobot yang lebih besar.
Dapat digunakan rumus :


                                    MA bt  =   ∑ ( bobot ) X
                                                         ∑ bobot


            Dalam perhitungan ini akan digunakan Weighted Moving Average ( WMA ) 3 bulan dengan bobot 50%, 30%, dan 20%.
3.4.3    Mean Absolute Devisiasion
Suatu ukuran kesalahan ramalan yang umum digunakan adalah Mean Absolute Devisiasion  ( MAD ). Secara sederhana, ukuran ini merupakan selisih antara permintaan nyata dan ramalan dengan tingkat rata-rata kesalahan selama meramalkan.
Dapat menggunakan rumus sebagai berikut :


                                    MAD  =       ∑ Kesalahan
                                                                N


Keterangan :    N : Jumlah Data Penjualan